Semakin Soleh Semakin Aktivis: Reaktualisasi Pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari dalam Kehidupan Kontemporer

 

Sumber: Ma'had Aly Jakarta. "Perjalanan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka, dari Gowa hingga Afrika Selatan." 18 Okt. 2019. mahadalyjakarta.com


Spiritualitas bukan pelarian dari realitas sosial. Dalam tradisi Syekh Yusuf Al-Makassari, kesalehan justru adalah bahan bakar perlawanan — semakin dalam seseorang mengenal Tuhan, semakin tajam pula kepeduliannya terhadap ketidakadilan.

Oleh  Aa Muhamad Zaenudin— Kajian Islam Nusantara


Ada sebuah paradoks yang kerap hidup di benak sebagian Muslim Indonesia, bahwa seseorang yang semakin saleh akan semakin menarik diri dari hiruk-pikuk dunia. Ia akan lebih banyak berdiam di sudut masjid, menekuni wirid, menjauhi perdebatan, dan menganggap urusan sosial-politik sebagai kekotoran yang mencemari kesucian spiritual. Pandangan ini tidak hanya keliru secara teologis, ia juga bertentangan langsung dengan keteladanan seorang tokoh besar yang lahir dari bumi Gowa, tiga abad lebih silam.

Syekh Yusuf Abul Mahasin Hidayatullah Bin Yahya Al-Alawi Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Bantani. Nama yang panjang, sejarah yang lebih panjang lagi. Ia adalah ulama sufi sekaligus pejuang antikolonial yang jejaknya membentang dari Makassar, Banten, hingga ke tanah asing Ceylon Sri Lanka dan Tanjung Harapan di ujung benua Afrika. Kisahnya bukan sekadar narasi kepahlawanan, ia adalah manifes hidup tentang bagaimana iman yang matang justru melahirkan keberanian yang tidak bisa dibungkam. Menjelang Memori 400 tahun Syekh Yusuf di bulan Juli 2026 maka perlu kisah perjuangan dan pemikirannya menjadi teladan sekaligus cerminan bagi kita semua.

Seorang Sufi yang Melawan Penjajah

Lahir pada tahun 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan, Syekh Yusuf tumbuh di lingkungan keraton yang sarat nilai dan tradisi. Namun ia tidak puas hanya dengan kemewahan bangsawan. Sejak muda, rasa haus akan ilmu membawanya mengarungi lautan menuju Banten, Gujarat, Yaman, Damaskus hingga akhirnya menetap lama di Makkah dan Madinah. Di sana ia berguru kepada ulama-ulama besar dan menjadi murid kesayangan Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalwati, hingga mendapat ijazah tertinggi dalam Tarekat Khalwatiyah, suatu pencapaian yang menempatkannya di jajaran sufi kelas satu Nusantara.

Yang menarik bukan hanya penguasaan ilmunya. Yang lebih mencengangkan adalah pilihan hidupnya setelah kembali ke tanah air. Pada 1672, ia menikah dengan putri Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten dan menjadi bagian dari lingkar kekuasaan yang tengah berjuang menahan cengkeraman VOC. Ketika Belanda berhasil menekan Kesultanan Banten melalui manuver politik adu-dombanya yang licik, Syekh Yusuf tidak berpaling. Ia tetap di sisi Sultan Ageng memimpin pasukan, mengkonsolidasi perlawanan, dan menjadi musuh nomor satu VOC di barat Pulau Jawa.

Kesalehan tidak pernah selesai di atas sajadah. Ia harus berjalan keluar, menyentuh tanah, merasakan penderitaan orang yang tertindas — baru ia menjadi sempurna.— Nilai yang tercermin dari keseluruhan perjalanan hidup Syekh Yusuf Al-Makassari

Pada 1683, ia akhirnya tertangkap. VOC mengasingkannya ke Ceylon (Sri Lanka), lalu pada 1694  karena pengaruhnya di sana dianggap terlalu besar dan berbahaya  ia dipindahkan ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Di sana, dalam pengasingan yang memisahkannya ribuan kilometer dari kampung halaman, Syekh Yusuf tidak menjadi patah. Ia mendirikan komunitas Muslim, mengajar, mengadvokasi masyarakat, membimbing, menulis banyak kitab, dan meninggalkan warisan yang hingga hari ini dihormati oleh komunitas Cape Malay di Afrika Selatan. Ia wafat pada 23 Mei 1699 di Zandvliet — dan diakui sebagai pahlawan nasional oleh dua negara yaitu Indonesia dan Afrika Selatan. Bahkan kisahnya menjadi inspirasi bagi Nelson Mandela tokoh Afrika Selatan yang meraih Nobel Perdamaian pada tahun 1993 dalam menentang Apartheid.

Tasawuf Bukan Candu — Ia Obat yang Menggugah

Salah satu tuduhan paling usang yang sering dialamatkan kepada tradisi sufi adalah bahwa ia membuat penganutnya fatalis, pasif, dan terlalu sibuk dengan urusan batin hingga melupakan realitas. Kritik ini mungkin berlaku untuk praktik tasawuf yang sudah kehilangan rohnya. Tapi bagi Syekh Yusuf, tasawuf bekerja sebaliknya.

Dalam pemikirannya, kedekatan dengan Allah bukan tujuan akhir yang membuat seseorang berhenti bergerak. Ia adalah titik tolak. Seorang yang telah mencapai maqam tertentu dalam suluk, yang hatinya telah bersih dari keserakahan, riya, dan takut mati — justru memiliki kebebasan yang tidak dimiliki orang biasa. Ia tidak lagi takut kehilangan jabatan. Ia tidak bisa disuap. Ia tidak gentar menghadapi kekuasaan yang zalim. Karena hatinya sudah bersandar pada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar dunia.

Inilah yang membuat para sufi sejati sepanjang sejarah Islam menjadi figur-figur yang bukan hanya dihormati karena ilmunya, tapi juga ditakuti oleh penguasa yang korup. Mereka sulit dibeli dan mustahil diancam. Syekh Yusuf adalah contoh paling nyata dari formula ini yakni semakin dalam ia bersuluk, semakin lurus ia berdiri di hadapan ketidakadilan.

Dikotomi : Antara Ahli Zikir dan Pejuang Sosial

Wacana keislaman kontemporer di Indonesia kerap terperangkap dalam dikotomi yang sebetulnya tidak pernah ada dalam sejarah umat, antara Islam "spiritual" yang fokus pada ibadah individual dan Islam "sosial" yang bergerak di ranah kemanusiaan dan politik. Seolah-olah seseorang hanya boleh memilih satu di antara keduanya.

Syekh Yusuf tidak pernah mengenal dikotomi itu. Dalam perjalanan hidupnya, zikir dan perjuangan berjalan beriringan seperti dua kaki yang melangkah bersama. Ia tidak pernah menanggalkan jubah sufinya ketika memimpin pasukan, dan tidak pernah berhenti berzikir di tengah peperangan. Baginya, keduanya adalah ekspresi dari tauhid yang sama berupa pengesaan Allah yang menuntut penolakan total terhadap segala bentuk penjajahan dan penindasan — termasuk penjajahan berseragam VOC.

Tradisi ini sebenarnya bukan milik Syekh Yusuf seorang. Hampir semua ulama besar Nusantara yang menjadi poros perlawanan kolonial dari Pangeran Diponegoro yang mengenakan surban putih di medan Perang Jawa, hingga Tengku Cik di Tiro di Aceh, adalah figur-figur yang menjadikan spiritualitas sebagai pondasi, bukan pelarian. Mereka memahami sesuatu yang tampaknya mulai kita lupakan yaitu bahwa keimanan yang otentik adalah imunitas terbaik dari cooptation — baik oleh kolonialisme lama maupun oleh berbagai bentuk kooptasi baru.

Apa yang Bisa Dipelajari Hari Ini?

Reaktualisasi pemikiran Syekh Yusuf sebagai Neosufisme bukan berarti kita harus mengangkat pedang atau hidup dalam pengasingan. Konteksnya berbeda. Tapi substansinya tetap relevan, bahkan semakin mendesak.

Pertama, soal integritas yang lahir dari batin yang bersih. Salah satu krisis terbesar bangsa ini bukan krisis modal atau teknologi tapi krisis integritas. Korupsi merajalela bukan karena orang-orang tidak tahu bahwa korupsi itu haram. Mereka tahu. Tapi mereka tidak punya fondasi batin yang cukup kuat untuk menolak godaan. Tasawuf, dalam kerangka yang diwariskan Syekh Yusuf, bukan sekadar amalan ritual, ia adalah proses pembentukan karakter yang membuat seseorang tidak bisa dibeli. Di sinilah relevansinya yang paling mendasar.

Kedua, soal keberanian berbicara benar di hadapan kekuasaan. Tradisi sufi mengenal konsep syaja'ah — keberanian yang lahir bukan dari emosi, tapi dari keyakinan. Syekh Yusuf tidak menentang VOC karena benci atau dendam semata. Ia melakukannya karena melihat penjajahan sebagai kemunkaran yang wajib ditolak oleh siapapun yang mengaku beriman. Hari ini, kemunkaran itu mungkin hadir dalam wajah yang berbeda, bisa dalam kebijakan yang menindas kaum lemah, oligarki yang mencaplok ruang hidup rakyat, atau sains palsu yang memiskinkan nalar publik. Seorang yang sungguh-sungguh beriman tidak boleh diam.

Ketiga, soal universalisme nilai. Fakta bahwa Syekh Yusuf dihormati di Afrika Selatan sebagai pendiri komunitas Muslim Cape Malay adalah bukti bahwa pemikiran beliau melampaui batas etnis dan geografi. Ia tidak hanya berjuang untuk Makassar atau untuk Gowa namun ia berjuang untuk keadilan sebagai nilai universal. Dalam era globalisasi yang kerap memecah belah melalui identitas sempit, warisan ini mengajarkan bahwa keislaman yang matang selalu bergerak ke arah yang lebih inklusif, bukan lebih ekslusif.

Tasawuf Sebagai Infrastruktur Gerakan

Ada satu hal lagi yang sering luput dari diskusi tentang Syekh Yusuf yakni mengenai peran jaringan sufi sebagai infrastruktur perlawanan. Ketika saluran politik formal dikunci oleh VOC, jaringan murid-murid Syekh Yusuf yang tersebar di berbagai wilayah menjadi saluran komunikasi, logistik, dan solidaritas yang sulit dihancurkan oleh karena ia beroperasi pada pemahaman keagamaan.

Peta ini menggambarkan perjalanan Syekh Yusuf Al-Makassari bersama ribuan prajuritnya setelah tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa oleh VOC. Perjalanan dimulai dari wilayah Pontang, pesisir utara Banten, kemudian menempuh jalur darat dengan berjalan kaki dan berkuda hingga mencapai Karang Pamijahan, Tasikmalaya, untuk bertemu dengan Syekh Abdul Muhyi, seorang ulama sufi, mursyid Tarekat Syattariyah, dan Al-'Arif Billah. Setelah itu, Syekh Yusuf tertangkap oleh VOC, dibawa ke Cirebon, dipenjarakan di Batavia, kemudian diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka), dan selanjutnya ke Cape Town, Afrika Selatan.

Sumber: Ahmad Baso, unggahan Facebook tentang "Jalur Pengembaraan Syekh Yusuf Al-Makassari di Jawa Barat (1683–1685)"

Ini bukan kebetulan sejarah. Di seluruh dunia, dari gerakan Senusiyyah di Libya hingga jaringan pesantren di Jawa yang menjadi tulang punggung perlawanan terhadap penjajah, komunitas berbasis nilai spiritual terbukti memiliki daya tahan yang luar biasa. Mengapa? Karena solidaritas yang lahir dari keyakinan bersama jauh lebih kuat daripada solidaritas yang lahir dari kepentingan bersama. Yang pertama bertahan ketika situasi memburuk. Yang kedua hancur ketika keuntungan mulai berkurang.

Dalam konteks hari ini, ketika berbagai gerakan sipil dan keumatan kerap terfragmentasi, melemah akibat konflik internal, atau mudah disusupi kepentingan asing, pelajaran tentang bagaimana tasawuf membangun kohesi sosial berbasis nilai menjadi sangat relevan untuk dikaji ulang akan tetapi bukan untuk dijiplak mentah-mentah, namun untuk diadaptasi secara kritis.

Mengembalikan Santri ke Panggung Sejarah

Di Indonesia, ada jutaan santri yang setiap hari mendalami ilmu agama di pesantren. Mereka hafal kitab, fasih berbahasa Arab, dan terlatih dalam berbagai disiplin ilmu Islam klasik. Tapi pertanyaannya adalah apakah tradisi keilmuan itu cukup untuk melahirkan generasi yang mampu membaca realitas sosial, memiliki keberanian moral, dan tidak mudah tunduk pada tekanan kekuasaan?

Syekh Yusuf mengingatkan kita bahwa ilmu agama yang benar seharusnya melahirkan kepekaan sosial yang tajam. Seorang ulama yang memahami tauhid dengan benar tidak mungkin diam melihat kemiskinan struktural yang sistematis, tidak mungkin berdiam diri ketika hak-hak dasar manusia diinjak-injak, dan tidak mungkin menjadi corong legitimasi bagi kekuasaan yang korup hanya demi menjaga kenyamanan dan posisinya.

Bukan berarti setiap ulama harus turun ke jalan atau masuk ke gelanggang politik praktis. Bentuk aktivisme itu beragam, misalnya ada yang mengangkat pena, ada yang mendidik generasi muda, ada yang membangun ekonomi komunitas, ada yang berbicara lantang dari mimbar. Yang tidak boleh adalah diam total sebab karena diam di hadapan kezaliman bukan kebijaksanaan, ia adalah keterlibatan pasif.

Penutup: Mewarisi Roh, Bukan Sekadar Nama

Setiap tahun, makam Syekh Yusuf di Lakiung, Gowa, diziarahi ribuan orang. Di Afrika Selatan, namanya diabadikan dalam nama kota Macassar di Provinsi Western Cape. Di Sri Lanka, jejaknya banyak menjadi objek oleh para peneliti. Tapi penghormatan terbesar yang bisa kita berikan kepada beliau bukan dengan memperbanyak ziarah atau memperpanjang gelar di belakang namanya.

Penghormatan terbesar adalah dengan mewarisi nilai-nilai kehidupannya antara lain kedalaman spiritual dan kepekaan sosial bukan dua hal yang bertentangan, mereka adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Bahwa seseorang yang sungguh-sungguh mengenal Allah tidak akan pernah bisa menutup mata dari penderitaan sesama manusia. Dan dalam bahasa yang lebih sederhana namun tidak kurang dalam adalah semakin soleh seseorang, seharusnya semakin ia menjadi aktivis — bukan aktivis yang gaduh dan penuh kebencian, tapi aktivis yang tenang, konsisten, dan lurus.

Warisan Syekh Yusuf Al-Makassari adalah tantangan bagi kita semua, sudahkah kesalehan kita menghasilkan keberanian? Sudahkah zikir kita melahirkan kepedulian? Atau kita hanya mengumpulkan ilmu dan amal tanpa pernah berani berdiri tegak di hadapan ketidakadilan?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab di atas sajadah saja. Ia harus dijawab di tengah kehidupan. Dan Syekh Yusuf dari Gowa, dari Banten, dari Ceylon, dan dari Tanjung Harapan sudah memberi jawabannya tiga abad lebih yang lalu.