Pendahuluan

Persoalan lingkungan, ketimpangan sosial, dan krisis makna hidup sering berakar pada cara manusia memahami posisi dirinya di alam semesta. Dalam kajian filsafat dan etika, muncul tiga orientasi besar: antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat, teosentrisme yang memusatkan kehidupan pada Tuhan, dan ekosentrisme yang menekankan nilai intrinsik alam. Jika dipahami secara ekstrem, ketiganya dapat menimbulkan bias: antroposentrisme dapat melahirkan eksploitasi, teosentrisme dapat berubah menjadi ritualisme pasif, dan ekosentrisme dapat mengabaikan kebutuhan manusia.

Dalam Islam, relasi antara Tuhan, manusia, dan alam tidak dipertentangkan, tetapi diintegrasikan dalam satu kerangka tauhid. Kajian mutakhir tentang etika lingkungan Islam menegaskan pentingnya khalifah, amanah, dan adl sebagai dasar pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Kajian lain juga menunjukkan bahwa prinsip mizan, iqtisad, dan larangan fasad membentuk etika ekologis yang holistik dan aplikatif.

Tiga Cara Pandang

Antroposentris adalah pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat nilai. Dalam bentuk yang sehat, pandangan ini mengakui bahwa manusia memiliki akal, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola bumi. Namun dalam bentuk ekstrem, antroposentrisme bisa berubah menjadi sikap seolah-olah alam hanya ada untuk dimanfaatkan manusia tanpa batas. Akibatnya, muncul eksploitasi sumber daya, pencemaran, dan kerusakan lingkungan.

Teosentris adalah pandangan yang menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Dalam agama, ini penting karena manusia diingatkan bahwa hidup tidak berdiri sendiri. Tetapi jika dipahami secara sempit, teosentrisme dapat berubah menjadi religiositas yang hanya fokus pada ritual, sementara tanggung jawab sosial dan lingkungan diabaikan. Padahal, dalam Islam, ibadah tidak bisa dipisahkan dari akhlak dan amal saleh.

Ekosentris adalah pandangan yang memberi perhatian besar pada alam dan ekosistem. Alam dipandang memiliki nilai yang harus dihormati. Pandangan ini sangat berguna untuk melawan kerakusan manusia. Akan tetapi, bila dipahami terlalu ekstrem, ekosentrisme bisa menempatkan manusia seolah-olah hanya ancaman bagi bumi, sehingga kebutuhan dasar manusia ikut diabaikan.


Miskonsepsi Dalam Kehidupan

Miskonsepsi antroposentris terjadi ketika manusia memahami dirinya sebagai penguasa mutlak bumi. Dalam praktik, hal ini tampak pada perilaku konsumtif, eksploitasi sumber daya tanpa batas, dan pembiaran kerusakan lingkungan. Padahal, dalam banyak tradisi agama, manusia justru dipahami sebagai makhluk yang memikul tanggung jawab moral, bukan pemilik absolut alam.

Miskonsepsi teosentris muncul ketika religiositas hanya dipahami sebagai hubungan vertikal dengan Tuhan tanpa konsekuensi horizontal terhadap sesama dan alam. Sikap ini dapat melahirkan pasifisme moral, yakni anggapan bahwa semua kerusakan adalah takdir sehingga manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan. Dalam Islam, sikap seperti itu tidak sejalan dengan ajaran yang menempatkan amal saleh dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari ibadah.

Miskonsepsi ekosentris muncul ketika perlindungan alam dipahami secara absolut hingga meniadakan keseimbangan dengan kebutuhan manusia. Dalam pendekatan yang lebih bijak, Islam mengakui bahwa alam memiliki nilai yang harus dijaga, tetapi manusia tetap diberi amanah untuk mengelola dan memakmurkannya secara adil.


Perspektif Islam

Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi, yaitu wakil yang diberi mandat untuk mengelola ciptaan Allah dengan tanggung jawab moral. Konsep ini bukan lisensi untuk menguasai alam secara sewenang-wenang, melainkan amanah untuk menjaga keseimbangan dan mencegah kerusakan. Kajian ilmiah terbaru menegaskan bahwa khilafah dan amanah merupakan dasar etika ekologis Islam yang relevan untuk isu keberlanjutan modern.

Prinsip mizan menegaskan bahwa alam diciptakan dalam ukuran, keseimbangan, dan keteraturan. Karena itu, tindakan manusia yang berlebihan, boros, dan merusak bertentangan dengan prinsip kosmik Islam. Prinsip adl menambahkan dimensi keadilan, bukan hanya antarmanusia, tetapi juga antargenerasi dan antar-makhluk.

Selain itu, Islam melarang fasad atau kerusakan di muka bumi. Larangan ini mencakup pencemaran, perusakan habitat, ketidakadilan distribusi sumber daya, dan tindakan yang mengancam keberlanjutan kehidupan. Dengan kerangka ini, Islam tidak jatuh pada antroposentrisme ekstrem, tidak berhenti pada teosentrisme ritualistik, dan tidak larut dalam ekosentrisme yang menafikan martabat manusia.


Dalil dan Relevansi Trilogi

Dalam perspektif Islam, trilogi antroposentris, teosentris, dan ekosentris tidak dipandang sebagai tiga orientasi yang saling meniadakan, melainkan sebagai satu kesatuan nilai yang berakar pada tauhid. Aspek teosentris menegaskan bahwa Allah merupakan pusat orientasi hidup manusia. Hal ini ditegaskan dalam al-Quran : 

Al-Ikhlas : 1-4 

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ٤ 

yang menegaskan keesaan Allah, 

QS. Adz-Dzariyat : 56 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦ 

yang menyatakan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, 

serta QS. Al-An’am: 162 

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٦٢ 

yang menekankan bahwa salat, ibadah, hidup, dan mati hanya dipersembahkan kepada Allah. 

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seluruh aktivitas manusia pada hakikatnya bernilai ibadah apabila diarahkan dengan niat yang benar dan dijalankan sesuai tuntunan syariat.

Di sisi lain, Islam juga mengakui dimensi antroposentris, tetapi dalam pengertian yang bertanggung jawab. Manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi, sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran:

QS. Al-Isra: 70 

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ ٧٠ 

menjelaskan bahwa manusia dimuliakan oleh Allah, 

sedangkan QS. Al-Ahzab : 72 

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ ٧٢ 

menunjukkan bahwa manusia memikul amanah yang sangat besar. 

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki kedudukan mulia, akal, kebebasan memilih, dan kemampuan untuk mengelola bumi. Namun, semua itu bukanlah lisensi untuk bertindak sewenang-wenang, melainkan amanah untuk memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, dan menjaga kemaslahatan bersama.

Adapun dimensi ekosentris dalam Islam tampak dari perhatian besar terhadap alam sebagai ciptaan Allah yang memiliki keteraturan dan keseimbangan, sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran:

QS. Ar-Rum : 41 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١ 

menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena ulah manusia, 

sedangkan QS. Al-A’raf: 56 

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦ 

melarang manusia membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.

QS. Ar-Rahman : 7-9 

وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ ٧ اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ ٨ وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ ٩ 

menegaskan prinsip mizan atau keseimbangan sebagai dasar penciptaan. 

Dalam hadis, Rasulullah SAW juga memberikan penghargaan tinggi terhadap tindakan ekologis, antara lain dalam ajaran bahwa “menanam pohon bernilai sedekah selama pohon itu memberi manfaat bagi makhluk hidup”. Dengan demikian, Islam memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga keberlanjutannya.

Realisasi trilogi ini dalam kehidupan Islam sangat nyata. Teosentris diwujudkan melalui keikhlasan dalam beribadah, ketaatan kepada Allah, dan kesadaran bahwa seluruh aktivitas hidup bernilai spiritual. Antroposentris diwujudkan melalui penggunaan akal untuk kebaikan, pengembangan ilmu, kerja jujur, kepedulian sosial, dan perlakuan adil terhadap sesama manusia. Sementara itu, ekosentris diwujudkan melalui perilaku ramah lingkungan, seperti menghemat air, tidak boros, menjaga kebersihan, menanam pohon, mengelola sampah dengan benar, dan menghindari tindakan yang merusak alam. Ketiga dimensi ini saling menguatkan dan membentuk corak kehidupan Islami yang menyeluruh.

Sintesis Tiga Aspek

Islam dapat dipahami sebagai agama yang memadukan tiga orientasi secara harmonis. Dari sisi teosentris, Islam menegaskan bahwa Allah adalah sumber nilai tertinggi dan tujuan akhir seluruh kehidupan. Dari sisi antroposentris, Islam mengakui manusia sebagai makhluk mulia yang diberi akal, kehendak, dan tanggung jawab moral. Dari sisi ekosentris, Islam melihat alam sebagai ayat-ayat Allah yang memiliki nilai dan harus dijaga keberlanjutannya. Sintesis ini membuat Islam bersifat menyeluruh karena ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi menuntut etika sosial dan ekologis.

Seorang muslim yang taat tidak hanya menjaga salat, tetapi juga menjaga air, tanah, udara, dan hubungan sosial. Dalam perspektif ini, agama menjadi pedoman hidup yang membentuk peradaban, bukan sekadar simbol kesalehan individual. Dengan demikian, Islam menghadirkan harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam dalam satu sistem nilai yang utuh.

Implikasi Praktis

Dalam konteks pendidikan, ajaran ini dapat diintegrasikan melalui pendidikan karakter dan ekoteologi, misalnya dengan pembiasaan hemat air, pengelolaan sampah, dan penanaman pohon sebagai bagian dari akhlak. Dalam konteks sosial, masjid, pesantren, dan sekolah Islam dapat menjadi ruang pembinaan kesadaran lingkungan berbasis nilai tauhid dan amanah.

Dalam konteks kebijakan publik, prinsip maqasid al-shariah dapat digunakan untuk menilai kebijakan pembangunan agar tidak merusak jiwa, akal, keturunan, harta, dan lingkungan hidup. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan dan keadilan. Di bidang lingkungan, ajaran Islam mendorong perilaku hemat sumber daya, menjaga kebersihan, mengurangi pemborosan, dan mencegah kerusakan alam.

Kesimpulan

Miskonsepsi terhadap antroposentris, teosentris, dan ekosentris muncul ketika salah satu aspek dijadikan satu-satunya pusat kebenaran. Islam hadir dengan pendekatan yang lebih utuh dan seimbang. Melalui konsep tauhid, khilafah, amanah, mizan, dan adl, Islam menempatkan Tuhan sebagai pusat nilai, manusia sebagai pelaksana amanah, dan alam sebagai ciptaan yang harus dijaga. Karena itu, Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga agama yang membimbing manusia membangun kehidupan yang adil, berkelanjutan, dan bermartabat.


Daftar Pustaka Singkat

Irhamullah, H., Hidayat, W., & Sari, H. P. (2025). Khilafah lingkungan: Peran manusia sebagai khalifah dalam menjaga bumi. QAZI: Journal of Islamic Studies, 2(2), 435–447.

Islamic environmental ethics: A cultural framework for sustainable resource management and global ecological stewardship. (2024). Diversity (UIN Alauddin).

Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Ekoteologi dan perlawanan terhadap antroposentrisme dalam tradisi agama.

Khilafah dan amanah sebagai dasar etika ekologis dalam Islam. (2025). Muqaddimah: Journal of Islamic Studies, 16(2), 56–67.

Qur’an al-Karim. QS. Al-Baqarah: 30; Al-Isra: 70; Al-Ahzab : 72; Ar-Rum : 41; Al-A’raf: 56; Ar-Rahman : 7–9; Al-Ikhlas : 1–4; Adz-Dzariyat : 56; Al-An’am: 162.


Penulis : Budi Kusmawan, S.Pd.I., M.Pd., Gr. Kader GP Ansor Bantar Gebang